Seri Doa Hari Ini (6): Doa Mohon Kekuasaan

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Doa Mohon Kekuasaan

Menurut Quraish Shihab, dalam Tafsir al-Mishbah, kata “Allahumma” di atas merupakan doa. Asalnya adalah “Ya Allah”. Tetapi untuk menghindari kata “Ya” atau “wahai” yang merupakan panggilan untuk jarak jauh, maka sebagai gantinya ditambahkanlah huruf ‘Mim” bertasydid sehingga berbunyi, “Allahumma”. Memang, lafadz mulia itu, yakni Allah, mempunyai keunikan-keunikan yang menarik untuk dijadikan pelajaran. Misalnya, kendati dihapus huruf demi huruf dari lafadznya, ia tetap menunjuk kepada Allah Yang Maha Kuasa itu. Contohnya, hapuslah hurufnya yang pertama, ia akan terbaca “lillah” yakni “milik Allah”. Lalu, hapus lagi huruf yang kedua, dia akan menjadi “lahu”, yakni “bagi-Nya” atau “milik-Nya”. Dan jika dihapus huruf yang ketiga, akan terbaca “Hu” yang menunjuk kepada-Nya. Selanjutnya, bila dipersingkat, maka yang terucapkan adalah “Ah”, yakni keluhan kaum beriman yang disampaikan kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Penolong itu. Dengan demikian, Allah diseru oleh makhluk-Nya suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar.

Muhammad Nasib al-Rifa’i dalam Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibn Katsir, menulis makna anak kalimat “Ya Allah Yang memiliki kerajaan” adalah “Engkau yang mengatur urusan makhluk-Mu, Yang Maha Mengerjakan apa yang Engkau kehendaki, maka kepunyaan Engkaulah segala kekuasaan.” Sedangkan anak kalimat selanjutya, “Engkau memberi kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan menghinakan orang yang Engkau kehendaki”, artinya ‘Engkaulah Yang memberi dan menolak. Bila sesuatu itu Engkau kehendaki, maka hal itu pun akan terealisasi dan bila sesuatu itu tidak Engkau kehendaki, maka tak akan terjadi”.

Menurut Muhammad Nasib al-Rifa’i ayat ini mengandung peringatan dan bimbingan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada umat ini berupa pengalihan kenabian dari tangan Bani Israil kepada seorang nabi yang berbangsa Arab yakni Muhammad SAW.

Anak kalimat, “Di tangan Engkaulah terletak kebajikan” membuat kita tersentak. Misalnya, Muhammad Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an, ia bergumam: dengan ukuran apa kita dapat menilai yang baik? Itulah kehendak Allah. Itu sebabnya, jika kita menyerah kepada kehendak Allah, maka kebaikan tertinggi itu akan kita lihat dan gapai. Kebaikan tertinggi itu adalah kehendak Allah. Manusia beriman harus terus bekerja keras untuk mempelajari dan memahami kehendak-Nya. Sebaliknya, kejahatan adalah pengingkaran terhadap kehendak Allah. Kehendak Allah itu sendiri berarti nama lain mengenai keputusan Allah.

Secara umum ayat 26 surat Alu-Imran di atas, menurut Allamah Kamal Faqih Imani dalam Nur al-Qur’an: An Enlightening Commentary into The Light of The Holy Qur’an, mengatakan bahwa ayat ini merujuk kepada kekuasan dan pemerintahan Allah yang telah mewujud di alam eksistensi berkat kemampuan manusia dan keterikatan manusia kepada Allah. Ayat ini tidak merujuk kepada pemerintahan dan kekuasaan tiran. Karena kekuasaan tiran tercipta melalui penerapan kesewenangan dan teror, yang penuh intrik politik dan konflik baik internal maupun eksternal.

Advertisements

One thought on “Seri Doa Hari Ini (6): Doa Mohon Kekuasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s