Seri Doa Hari Ini (5): Doa Memelihara Hidayah

Doa Memelihara Hidayah

Dalam pengamatan Quraish Shihab, dalam Tafsir al-Mishbah, doa di atas dalam teks Arabnya tidak menggunakan kata ”Yaa” (wahai!) yang merupakan kata seru untuk memanggil yang jauh. Hal ini mengisyaratkan kedekatan mereka kepada Allah SWT atau kedekatan Allah SWT kepada makhluk-Nya. Maka benarlah firman Allah:

QS al-Baqarah [2] ayat 186

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku….”  (QS al-Baqarah [2] ayat 186).

Bahkan disebutkan bahwa dekatnya Allah dengan kita sedekat kita dengan urat leher kita sendiri. Jadi, selama ini terbukti kita yang menjauhi Allah SWT, bukan sebaliknya.

Dikatakan, orang berbijak pernah berkata bahwa kalau kita merapat, mendekat kepada Allah selangkah, maka Allah akan membalas dengan merapat dan mendekat seribu langkah. Manakala kita menghampiri Allah dengan berjalan kaki, maka Allah akan membalasnya dengan berlari. Jadi, bila kita dekat maka Allah lebih dekat, pun sebaliknya. Apalagi, Allah itu tergantung sangka kita kepada-Nya, dekat atau jauh kita di sisi Allah tergantung sangka kita kepada-Nya. Maka yakinilah, Allah itu dekat. Caranya, mari kita merapat dan mendekat dengan memperbanyak bermunajat. Salah-satunya dengan melafalkan doa di atas yang diyakini sebagai doa kaum intelektual yang rendah hati dan waspada akan berbuat dosa.

Dalam doa memelihara hidayah di atas, ”Ya Tuhan kami! Jangan biarkan hati kami cenderung kepada kesesatan setelah Engkau menunjuki kami!”, Syaikh Nawawi Banten dalam tafsirnya, Tafsir Munir, menjelaskan bahwa doa itu berarti, ”Jangan Engkau menyesatkan hati kami dari agama-Mu sesudah Engkau memberikan petunjuk kepada kami ke jalan agama-Mu. Selain itu, maknanya: Ya Tuhan kami, jangan Engkau menjadikan hati kami cenderung kepada kebatilan sesudah Engkau menjadikannya cenderung kepada kebenaran”. Tampak di sini, hidayah bukan hadiah tapi harus dicari dengan susah dan payah.

Sedangkan dalam potongan doa selanjutnya, ”Berilah kami kasih sayang dari sisi Engkau!”, Syaikh Nawawi menjelaskan: ”Berilah cahaya iman, tauhid,  dan ma’rifat ke dalam hati kami. Berikanlah cahaya ketaatan, ibadah, dan pelayanan terhadap anggota tubuh kami. Berikanlah kemudahan sarana penghidupan berupa keamanan, kesehatan, dan kecukupan di dunia. Berikanlah kemudahan dalam menjalani sakaratul maut pada saat meregang nyawa. Berikanlah kemudahan dalam menjalani pertanyaan di alam kubur yang gelap. Berikanlah ampunan dari segala kesalahan dan berikanlah timbangan kebaikan yang berat di akhirat kelak”.

Inilah mengapa kata ”rahmatan” dalam ayat di atas ditulis secara nakirah (indefinitive/tidak tertentu). Menurut al-Syaukani dalam karyanya Fathul Qadir, kata ”rahmatan” berfungsi menunjukkan betapa besarnya (tidak terbatasnya) seperti diungkap Syaikh Nawawi Banten di atas. Namun, makna ”rahmatan” ini juga bisa berarti keteguhan hati (yang tak terbatas dan terus-menerus / berulang-ulang yang bersumber dari sisi Allah SWT), seperti yang dipahami oleh Jalaluddin al-Suyuthi, dalam Tafsir Jalalain, ketika beliau meneruskan karya Jalaluddin al-Mahalli yang menulis Tafsir Jalalain mulai al-Kahfi hingga akhir al-Qur’an.

Advertisements

2 thoughts on “Seri Doa Hari Ini (5): Doa Memelihara Hidayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s