Seri Asmaul Husna: Al-Muhyi wa Al-Mumit ‎(Yang Maha Menghidupkan & Yang Maha Mematikan ‎/ The Giver of Life & The Creator of Death)‎

Al-Muhyi wa Al-Mumit header

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Dalam surat al-Maidah [5] ayat 32, Allah berkomentar,

QS al-Maidah [5] ayat 3

Barangsiapa yang menghidupkan (memelihara kehidupan seorang manusia), maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”.

Pelajaran apa yang bisa kita raih dari ayat di atas? 

Kendati Allah menyebut diri sebagai al-Muhyi, tapi di hadapan manusia Ia bersedia untuk menyebut manusia sebagai “al-Muhyi” juga. Allah mengakui siapa saja yang turut memelihara kehidupan manusia. Dan tentu, Dia menindak dengan tegas siapapun yang berbuat kerusakan, angkara-murka, dan kematian. Bagi Allah, hanya Dialah yang berhak untuk menentukan kematian semua makhluk-Nya. Allah tidak menghendaki keterlibatan manusia atau makhluk lainnya dalam hal ini. Allah firmankan,

QS al-Zumar [39] ayat 42

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan…” (QS al-Zumar [39] ayat 42).

Tak hanya itu, dalam al-Qur’an disebutkan bahwa kehidupan dan kematian keduanya Dialah yang menciptakan. “Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amalnya”.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, bagaiman kita memaknai secara praksis al-Muhyi dan al-Mumit itu? Sikap dan perbuatan seperti apa yang dipandang sebagai manifestasi dari keduanya?

Mari kita tengok fragmen kehidupan umat sebelum kita berikut ini.

Pertama, ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz memeriksa daftar sertifikat tanah, dia menemukan bahwa ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam, memiliki perkebunan kurma yang sangat luas dan subur di Khaibar, dekat Madinah. Harta itu lalu diwariskan kepadanya. Usai menyelidiki kronologisnya, ternyata lahan itu diambil kakek Umar dari milik kaum muslimin. Spontan Umar merobek sertifikat tanah dan kebun miliknya itu, lalu mengembalikkan kepada negara.

Dari cerita di atas bisa dipahami bahwa Umar bin Abdul Aziz menghidupkan kembali hak-hak kaum muslimin. Di lain pihak, Umar mematikan jalan sesat yang dipraktikkan kakeknya. Langkah Umar itu juga relevan dengan firman Allah,

QS Ali-Imran [3] ayat 49

“…dan Aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah” (QS Ali-Imran [3] ayat 49).

Menurut Quraish Shihab, kata “menghidupkan” di sini, dipahami oleh ulama dalam arti menghidupkan kalbu seseorang yang gersang dengan iman.

Kedua, seorang pezina Yahudi diarak melintas di hadapan Rasulullah. Mukanya kehitam-hitaman seperti diberi arang. Rasulullah bertanya kepada para pengaraknya, “Begitukah sanksi zina dalam Taurat?” Jawab mereka, “Benar.

Sejurus, Rasulullah memanggil kepala pendeta Yahudi dan berkata, “Kuminta Engkau bersumpah dengan nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, benarkah begitu hukum zina dalam Taurat?” Pendeta itu menjawab, “Tidak. Andai Anda tidak menyuruhku bersumpah, aku takkan mengatakan yang sebenarnya. Kami tahu hukumnya rajam. Tapi, itu tidak berlaku bagi para pembesar kami. Jika mereka tertangkap, kami biarkan. Namun, bila pelakunya rakyat kecil baru kami tegakkan hukum Taurat. Akhirnya, kami ubah sanksi zina bagi yang sudah pernah menikah.” (HR. Muslim).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s