Seri Asmaul Husna: Al-Muhshy ‎(Yang Maha Menghitung / The Counter, The Reckoner)‎

Al-Muhshy header

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Kesalahan menghitung dan sengaja menghitung salah, di negeri kita, mengakibatkan terjadinya praktik korupsi. Korupsi, menurut seorang pemerhati, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

1. korupsi sebagai fact of life, di mana korupsi merupakan tindakan penyimpangan norma yang dilakukan oleh individual dan bukan merupakan hal yang sistematik;

2. korupsi sebagai way of life, di mana korupsi terjadi dengan tidak terkontrol, di seluruh lini masyarakat, sehingga bukan lagi merupakan penyimpangan norma, melainkan menjadi norma itu sendiri.

Secara teologis, dalam kehidupan eksatologis pelaku korupsi akan dihitung semua perbuatannya secara kualitatif, cermat, dan teliti oleh Allah. Inilah titah-Nya itu:

QS al-Mujadilah [58] ayat 6

Pada hari ketika mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitung amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” (QS al-Mujadilah [58] ayat 6).

Pada hari itu akan jelas segalanya: kesalahan menghitung atau sengaja menghitung salah.

Bagaimana menghindari perilaku korupsi? 

Pertama, dalam perspektif Allah sebagai al-Muhshy, siapapun kita dan jabatan publik seperti apapun yang kita panggul, maka hendaknya dipahami bahwa: “Dia yang mengetahui dengan amat teliti segala sesuatu dari segi jumlah dan kadarnya, panjang dan lebarnya, jauh dan dekatnya, tempat dan waktunya, kadar cahaya dan gelapnya. Bahkan jumlah nafas yang dihela dan dihembuskan semua makhluk diketahui dengan hitungan yang rinci”.

Bisakah kita lari dari diri-Nya Yang Maha Teliti? Bagi Allah, secara pasti dan rinci semua perbuatan kita, transparan maupun kolutif, dengan mudah diketahui. Dalam jargon al-Qur’an, hal itu digambarkan:

QS Huud [11] ayat 6

Dan tidak ada sesuatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS Huud [11] ayat 6).

Secara rinci, seperti apa praktik korupsi? 

Ada yang berkata, bentuk-bentuk korupsi itu meliputi: meminta atau menerima suap secara sukarela maupun paksa, pemberian proteksi atas kepentingan individu atau kelompok tertentu, kroniisme, manipulasi barang-barang publik untuk kepentingan pribadi. Yang terakhir bisa dilakukan melalui swastanisasi perusahaan BUMN secara tidak transparan, penggunaan peralatan atau sumber daya keuangan publik untuk kepentingan individu, pemilikan dana perusahaan yang tidak terkontrol, memperoleh kredit tanpa mau mengembalikan, membayar gaji kepada orang yang tidak memberi konstribusi.

Kedua, dalam perspektif pakar pendidikan, tindakan untuk mengendalikan atau mengurangi korupsi adalah keseluruhan upaya untuk mendorong generasi-generasi mendatang mengembangkan sikap menolak secara tegas setiap bentuk sikap korupsi. Perubahan dari sikap membiarkan dan menerima ke sikap tegas menolak korupsi, tidak pernah terjadi jika kita tidak secara sadar membina kemampuan generasi mendatang untuk memperbarui sistem nilai yang diwarisi, sesuai dengan tuntutan yang muncul dalam setiap tahap perjalanan bangsa.

Advertisements

2 thoughts on “Seri Asmaul Husna: Al-Muhshy ‎(Yang Maha Menghitung / The Counter, The Reckoner)‎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s