Seri Asmaul Husna: Al-Mubdi’ ‎(Yang Maha Memulai / The Originator)‎

Al-Mubdi' header

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Allah adalah Zat yang mula-mula ada. Adanya Allah bukan karena adanya sesuatu. Adanya sesuatu karena Allah yang mengadakannya dari tiada (cretio ex nihilo). Eksistensi kita sejatinya tiada, karena bergantung pada eksistensi-Nya. Nyatanya, selama ini kita bukan hidup tapi dihidupkan. Kita bukan mati tapi dimatikan. Kita bukan makan dan minum, tapi disuapi Allah.

Ketika di hadapan publik kita membusungkan dada karena beroleh harta dan kuasa, sejatinya Allah yang telah memberi itu semua. Tepatlah kalau Allah mendeklarasikan diri-Nya sebagai Yang  Maha Memulai dan Mengadakan segalanya. Sungguh tepat kalau dikatakan bahwa manusia selama ini benar-benar tidak berdaya. Ia bereksistensi semu dan tidak konsisten terhadap titah Tuhan.

Bagi kita, makhluk lain bisa jadi pelajaran. Matahari, misalnya, terus bersinar sepanjang hari memberi hidup kepada seisi bumi. Bulan bersinar memberi cahaya dan menentukan waktu perputaran. Gunung berdiri tegak beribu-ribu tahun melaksanakan tugas. Pohon-pohon dengan bunga yang indah dan buah-buahan melimpah. Angin bertiup membawa kehidupan. Awan memindah-mindah air hujan. Sungai mengalir untuk kebutuhan manusia dan ternak, mengairi ladang dan tanaman. Hewan berkaki empat selalu ruku dan khusyu. Binatang melata dan merayap. Semua makhluk Allah itu bertasbih dan berbakti kepada manusia.

Lalu bagaimana dengan kita, bangsa manusia?

Saatnya kita memulai kebaikan. Kebaikan apa saja yang bisa kita laksanakan. Bahkan secara ekstrem, agar orang sesegera mungkin menebar kebaikan,  Plato pernah berkata, “Aku hanya berharap bahwa orang-orang memiliki kemampuan tak terbatas untuk melakukan keburukan, sehingga mereka mungkin juga akan memiliki kemampuan tak terbatas untuk melakukan kebaikan, yang akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika benar-benar demikian”.

Bagi Plato, keburukan yang berbuah kebaikan masih lebih baik daripada tidak berbuat kebaikan sama sekali. Sebagai muslim, pasti kita berargumen, kebaikan itu harus berpangkal pada kebaikan pula.

Bila kita insyafi, kita bisa menutup aurat dan berpakaian karena ada yang memulai membuat baju. Malam hari, kita masih bisa beraktifitas di bawah penerang lampu karena Thomas Alva Edison memulai percobaan hingga seribu kali untuk menemukan materi yang dialiri listrik bisa menyala. Pun, nasi yang kita makan adalah buah karya para petani. Termasuk, intelektualitas kita yang terus berkembang meninju langit, pada awalnya adalah karena ada seorang guru yang mau membagi waktu memulai mengajar alif, ba, ta atau alfabeta. Kini buncahkan pikiran, kita sudah memulai apa? Bukankah secara teologis kita mempercayai Allah Maha Memulai segalanya? Allah mempertegas, bahwa masa depan manusia atau bangsa tergantung dari kerja keras dan keinginan untuk maju dan merubah nasib. Semua itu datang dari diri sendiri. Allah katakan:

QS. al-Ra’d [13] ayat 11

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. al-Ra’d [13] ayat 11).

Advertisements

One thought on “Seri Asmaul Husna: Al-Mubdi’ ‎(Yang Maha Memulai / The Originator)‎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s