Seri Asmaul Husna: Al-Hamid (Yang Maha Terpuji / The All-Praised, The Praiseworthy)

Al-Hamiid header

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Al-Miqdad meriwayatkan sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

Taburilah wajah orang-orang yang suka memuji dengan debu”.

Tentu, dalam hadits di atas obyek yang dipuji bukanlah Allah. Para ahli hadits memandang bahwa mereka yang diperintahkan Nabi SAW untuk ditaburi wajahnya dengan debu adalah orang-orang yang gemar menjilat dengan puji-pujian. Frasaditaburi dengan debu” bisa ditafsiri dengan dipermalukan, diberhentikan dari jabatan, dan dihukum. Mengapa demikian? Sebab dalam kaca mata sejarah praktik memuji para penguasa, atau lebih dikenal dengan suap berujung pada kehancuran sebuah negara atau pemerintahan.

Imam al-Ghazali, dalam sebuah karyanya, yakni Makatib al-Ghazali membuktikan hal itu. Buku Makatib al-Ghazali adalah kumpulan surat-surat al-Ghazali yang ditujukan kepada para penguasa Seljuk, pangeran, ulama sezamannya, termasuk perdana menteri Hasan bin Nizam al-Muluk al-Thusi. Surat-surat tersebut bukan untuk membuat senang atau memuji keberhasilan para penguasa, tetapi al-Ghazali mengkritik dengan keras penguasa Seljuk dan para menteri yang berkompromi untuk melakukan suap, korupsi, nepotisme, praktik ketidakadilan, yang semua itu menjangkiti kekuasaan.

Dalam salah satu suratnya, al-Ghazali mengeluhkan keadaan yang menyedihkan dalam masyarakat pada masa itu. Yakni, suatu keadaan di mana penderitaan dan jeritan mereka yang miskin tidak lagi didengar. Para penguasa lebih asyik mengutak-atik matematika politik, berpikir hari ini kedudukan dan kekuasaan apa yang bisa diraih. Padahal masyarakat mencurahkan segala daya justru untuk membiayai para pejabat. Sementara segala fasilitas yang diberikan kepada para penguasa yang hakikatnya bersumber dari rakyat begitu mudah diselewengkan. Al-Ghazali mempertanyakan: akan pernahkah ada perdamaian di atas bumi, selagi orang-orang miskin bekerja untuk memberi makan orang-orang yang kuat dan menyumpal perut para tiran? Akan pernahkah kedamaian datang menyelamatkan mereka dari cengkeraman kelaparan?

Dalam surat yang lain, yakni kepada Mujir al-Daulah, seorang wazir Seljuk, al-Ghazali berkata :

Tidakkah Anda sadari betapa kekacauan telah terjadi di bagian negeri ini. Para pemungut pajak yang korup menindas penduduk yang bodoh untuk kepentingan mereka sendiri dan tidak memasukkan sejumlah pajak dan pendapatan lain ke dalam kas negara.  Berpikirlah tentang penduduk negeri Anda yang badannya remuk, yang digerogoti oleh kesedihan, kemiskinan dan kelaparan. Sementara Anda sendiri menjalani kehidupan mewah. Andai ada yang bisa meruntuhkan Khurasan sekaligus maka itu adalah menteri seperti itu, yang pantas untuk dikutuk. Jangan biarkan perasaan angkuh menahan Anda dari mengetahui betapa besar dan mengerikannya diri Anda”.

Advertisements

One thought on “Seri Asmaul Husna: Al-Hamid (Yang Maha Terpuji / The All-Praised, The Praiseworthy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s