Seri Asmaul Husna: Al-Muhyi wa Al-Mumit ‎(Yang Maha Menghidupkan & Yang Maha Mematikan ‎/ The Giver of Life & The Creator of Death)‎

Kendati Allah menyebut diri sebagai al-Muhyi, tapi di hadapan manusia Ia bersedia untuk menyebut manusia sebagai “al-Muhyi” juga. Allah mengakui siapa saja yang turut memelihara kehidupan manusia. Dan tentu, Dia menindak dengan tegas siapapun yang berbuat kerusakan, angkara-murka, dan kematian. Bagi Allah, hanya Dialah yang berhak untuk menentukan kematian semua makhluk-Nya. Allah tidak menghendaki keterlibatan manusia atau makhluk lainnya dalam hal ini.

Seri Asmaul Husna: Al-Mubdi’ ‎(Yang Maha Memulai / The Originator)‎

Allah adalah Zat yang mula-mula ada. Adanya Allah bukan karena adanya sesuatu. Adanya sesuatu karena Allah yang mengadakannya dari tiada (cretio ex nihilo). Eksistensi kita sejatinya tiada, karena bergantung pada eksistensi-Nya. Nyatanya, selama ini kita bukan hidup tapi dihidupkan. Kita bukan mati tapi dimatikan. Kita bukan makan dan minum, tapi disuapi Allah.

Seri Asmaul Husna: Al-Muhshy ‎(Yang Maha Menghitung / The Counter, The Reckoner)‎

Dalam perspektif Allah sebagai al-Muhshy, siapapun kita dan jabatan publik seperti apapun yang kita panggul, maka hendaknya dipahami bahwa: “Dia yang mengetahui dengan amat teliti segala sesuatu dari segi jumlah dan kadarnya, panjang dan lebarnya, jauh dan dekatnya, tempat dan waktunya, kadar cahaya dan gelapnya. Bahkan jumlah nafas yang dihela dan dihembuskan semua makhluk diketahui dengan hitungan yang rinci”. Bisakah kita lari dari diri-Nya Yang Maha Teliti? Bagi Allah, secara pasti dan rinci semua perbuatan kita, transparan maupun kolutif, dengan mudah diketahui.

Seri Asmaul Husna: Al-Hamid (Yang Maha Terpuji / The All-Praised, The Praiseworthy)

Kita harus memuji Allah sebab Dialah yang dipuji oleh makhluk sejagat yang bereksistensi. Bagi Syaikh al-Jerrahi, memuji adalah memuliakan dengan menghormati dan berterima kasih kepada-Nya. Semua yang bereksistensi memuji Allah dengan lidah mereka, dengan perbuatan, atau dengan keberadaan mereka. Sebab hanya al-Hamid sajalah yang pantas dipatuhi, dihormati, disyukuri, dan dipuji.