Seri Asmaul Husna: Al-Wakiil ‎(Yang Maha Mewakili / The Trustee)

Al-Wakiil header

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Bersumber dari Abu Dzar, r.a. : Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak mengangkatku menjadi wakilmu?” Kemudian beliau menepuk-nepuk pundakku dengan kedua tangannya, seraya bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Kelak di hari kiamat kekuasaan itu akan menjadi kehinaan dan kesedihan, kecuali orang yang mengambilnya dengan kebenaran dan menunaikan segala kewajiban.” (HR. Muslim).

Bisa jadi yang dimaksud lemah pada diri Abu Dzar bukan lemah fisik. Tetapi lemah dalam arti yang luas yang diperlukan bagi seorang yang menjadi wakil orang banyak. Apalagi menjadi wakil atau pemimpin itu harus mampu memberikan ketenangan, keamanan, kepercayaan bagi orang yang diwakilkan atau dipimpin. Rasulullah kembali tegaskan, “Sesungguhnya kita, demi Allah, tidak akan memberikan pekerjaan ini (kepemimpinan) kepada seorang pun yang memintanya dan tidak juga kepada orang yang sangat menginginkannya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Sungguh, keadaan saat ini sudah jauh berubah. Manusia saling berebut untuk mewakili manusia lainnya. Di bidang kenegaraan banyak orang yang bersedia menjadi wakil sekian banyak orang. Segala hajat dan hak-hak sebagai warga negara cukup diwakilkan oleh seorang saja yang duduk di parlemen. Untuk bisa menjadi wakil rakyat atau orang banyak harus berjuang dan berkorban. Bukan berjuang agar bisa menjadi wakil yang baik dan memenuhi harapan khalayak kelak. Tetapi bagaimana menebar pesona agar masyarakat tertarik dan memilihnya dalam pemilu.

Syukurlah, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai al-Wakil atau Yang Maha Mewakili. Ia mengajarkan umat manusia seperti apa seharusnya menjadi wakil itu. Apa yang harus diberikan kepada yang berwakil. Tentu bukan seperti manusia yang hanya mencari popularitas dan tujuan-tujuan politik-ekonomi tertentu.

Allah tidak butuh pengakuan manusia. Allah tidak pernah menarik keuntungan atas kebaikan manusia. Pun, amal-ibadah sekian miliar hamba dalam sehari tidak menambah eksistensi-Nya sebagai Tuhan di mata sekian billion makhluk ciptaan-Nya.

Di dalam al-Qur’an, kata al-wakil berarti antara lain:

QS. Hud [11] ayat 12

dan Allah pemelihara segala sesuatu” (QS. Hud [11] ayat 12).

QS. Al-Zumar [39] ayat 62

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” (QS. Al-Zumar [39] ayat 62).

QS. Al-Nisaa [4] ayat 81)

Cukuplah Allah menjadi Pelindung” (QS. Al-Nisaa [4] ayat 81).

QS. Al-Israa [17] ayat 2

“… janganlah kamu mencari penolong selain Aku” (QS. Al-Israa [17] ayat 2).

Menurut Mahmud Samiy, al-Wakil adalah Zat yang mengurus segala urusan hamba-Nya dan memudahkan segala yang dibutuhkan oleh mereka. Atau al-Wakil adalah Zat yang segala perkara diwakilkan kepada-Nya. Jadi, Allah adalah wakil yang mutlak yang segala urusan diserahkan kepada-Nya, dan Dia selalu sesuai untuk melaksanakan dan menyempurnakannya.

Berdasar paparan di atas, bagi semua makhluk tidak punya pilihan selain harus menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Karena Dia-lah sebaik-baik wakil yang paling pantas diserahi urusan. Dia mampu memberi rasa tenang bagi sekalian hamba yang menyerahkan hidup-matinya kepada Allah. Dia tidak merasa berat dan terbebani. Tetapi Dia tidak memiliki kewajiban untuk itu semua. Manusia tidak boleh beranggapan bahwa Allah berkewajiban memenuhi semua harapan manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s