Seri Asmaul Husna: Al-Mu’min ‎(Yang Memberi Rasa Aman / The Guardian of Faith)‎

Al-Mu'min background

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Maha Suci Allah yang telah mengamankan dan memberikan rasa aman kepada seluruh makhluk dari segala macam bahaya dan kehancuran.

Di era modern, banyak orang bersedia mengeluarkan uang jutaan rupiah agar bisa hidup secara aman. Di kantor, para pengusaha memagar tinggi-tinggi gedung dan bangunan. Tak hanya itu, untuk menyimpan uang dan surat-surat berharga dibuat brankas tahan api dan bersandi. Padahal di pintu masuk selalu bertengger satpam 24 jam. Kita (juga) sering mendengar cerita banyak orang yang berharta melimpah, tidak bisa tidur karena selalu takut harta dan kekayaannya dikuasai orang lain. Rasa aman dan keamanan tidak hadir dalam diri. Sebaliknya khawatir, takut, was-was, terus menghantui diri. Akibatnya harta dan kekayaan bukan sebagai berkah tapi memperbudak diri karena harus terus dijaga.

Allah sebagai al-Mu’min, pemberi rasa aman, tidak hanya memberi rasa aman kepada mereka yang beriman saja. Karena sifat Rahman-Nya,  mereka yang kafir pun diberikan dan dianugerahi rasa aman. Hanya saja keamanan bagi mereka yang kafir lebih sebagai keamanan yang bersifat temporer. Ia lebih berdimensi dunia, dan tak kekal. Allah sebagai al-Mu’min sendiri mengatakan bahwa:

QS al-An’aam [6] ayat 82

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk”(QS al-An’aam [6] ayat 82).

Dalam Islam, seringkali diungkapkan bahwa bagi mereka yang beriman dan bertakwa secara maksimal, maka tempat mereka adalah di kampung akhirat yang penuh dengan keamanan atau Daar al-Amn. Daar al-Amn, dengan begitu, tidak akan ditempati oleh mereka yang menjadikan harta, kekayaan, pangkat, jabatan, sebagai ”tuhan-tuhan yang diagungkan.”

Kita menyadari bahwa iklim, musim, cuaca, keadaan alam dan lingkungan sangat mempengaruhi hidup kita. Hujan yang selama ini kita pahami sebagai rahmat yang turun membawa berkah dan menghidupkan tanah yang mati, tapi ternyata menimbulkan ketakutan dan ancaman, seperti banjir, tanah longsor, dan wabah penyakit. Di musim hujan kita takut La-Nina berkepanjangan. Seolah Allah tidak pandai mengatur musim, sia-sia menurunkan hujan dan membahayakan. Di saat musim kemarau muncul ketakutan akan terjadi El-Nino berkepanjangan. Kemarau disambut duka. Orang berprasangka bahwa petani akan merugi. Peternak menyesali ternak yang mati.

Padahal pada zaman kakek dan nenek kita musim panas atau kemarau jadi pertanda bakal datangnya musim buah-buahan karena sinar matahari membantu proses terjadinya fotosentesis dari bunga menjadi buah. Sementara itu bangsa kumbang dan berbagai jenis burung bergembira ria semua. Sejatinya mereka tengah membantu penyerbukan pada kembang di tengah udara cerah-ceria. Tapi kini, kemarau dimaknai musim yang menakutkan. Kering-kerontang selalu ditujukan karena kesalahan Tuhan. Kemarau telah menimbulkan rasa takut akan bahaya kekeringan dan kelaparan karenan buah-buahan dan pertanian gagal  panen.

Advertisements

One thought on “Seri Asmaul Husna: Al-Mu’min ‎(Yang Memberi Rasa Aman / The Guardian of Faith)‎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s