Seri Asmaul Husna: Al-Haq ‎(Yang Maha Benar / The Truth)

Al-Haq header

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Setiap malam orang-orang saleh di ujung tahajud kerap berdendang dengan  khusyu. Para pencinta itu tersungkur, bersujud, dan bersimbah  air mata. Mereka meratap, ”Segala puji bagi-Mu. Engkau senantiasa mengurus langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya. Sungguh, Engkaulah yang Maha Haq. Firman-Mu haq, Janji-Mu haq. Pertemuan dengan-Mu haq. Surga itu haq. Neraka itu haq”. Isak-tangis itu pun kian menjadi. Penuh gemuruh. Lalu sambil menyungkur mereka mengakui, ”Dan kiamat itu haq.”.

Apakah makna ”haq” itu dan seperti apa spektrum artinya ketika Allah disebut sebagai al-Haq? Secara bahasa kata yang terulang sebanyak 227 kali dalam al-Qur’an ini dapat disebut sebagai lawan dari kata bathil. Secara lebih mendalam, para pakar bahasa mengartikannya sebagai sesuatu yang pasti, yang benar, mantap dan tidak berubah. Seperti doa setelah tahajud di atas yang bersumber dari Ibnu Abbas, r.a dan ditulis  oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab induk hadits mereka, ”Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu benar. Surga-Mu nyata. Neraka itu benar. Dan kiamat itu pasti”.

Bila dikaitkan dengan sifat Allah, al-Haq itu berarti Dia yang tidak menerima kemusnahan, kebinasaan, dan perubahan. Dia sumber segala kepastian, kemantapan, kebenaran dan semua itu akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu segala sesuatu selain Allah adalah sementara. Eksistensi makhluk berasal dari eksistensi Yang Maha Benar dan karena itu bersifat nisbi, semu dan rapuh. Eksistensi Allah tidak dipengaruhi oleh kebenaran dan kepastian yang lain. Kebenaran-Nya mustahil berbenturan dengan kebenaran manapun. Karena sejatinya, Allah pemilik kebenaran itu sendiri.

Dalam dunia manusia, seperti ditulis M. Dawam Rahardjo, perbenturan antar bangsa  dengan peradaban yang sama atau berbeda, yang benar (haq) akan jaya, sedangkan yang batil akan runtuh (QS al-Isra [17] ayat 81 dan Saba [34] ayat 49). Dalam sejarah perbenturan antara kota Mekah yang dipimpin kaum kafir dan kota Madinah pimpinan Nabi SAW merupakan perbenturan antara yang hak dan yang batil. Mengapa? Sebab persaingan antara sistem nilai yang sama-sama luhur tidak akan menimbulkan konfrontasi atau perbedaan (clash). Suatu perbenturan fisik akan terjadi apabila salah satu atau semuanya dari sistem nilai yang bertarung itu batil (mengandung keburukan dalam prinsip) dan atau fasik (mengandung kekeliruan dalam pelaksanaan).

Dalam persaingan seperti kasus di atas,  demikian M. Dawam Rahardjo, pimpinan kota Mekah tidak tahan karena itu mereka naik pitam dengan melakukan berkali-kali agresi, dan tidak pernah berhasil. Sebenarnya agresi adalah tanda kekalahan persaingan dalam perbenturan peradaban. Perang dan agresi  bukanlah peradaban itu sendiri, melainkan sebuah perusakan peradaban (de-civilization). Dalam masyarakat berperadaban, agresi dan penghancuran kelompok atau kekuatan lain tidak pernah akan terjadi. Hanya mereka yang terdesak dan kalah dalam peradaban-lah yang akan bermain kasar, membabi-buta dan gelap-mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s