Seri Asmaul Husna: Al-Baa’its ‎(Yang Maha Membangkitkan / The Resurrector)‎

Al-Baa'its header

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Masalah kebangkitan manusia setelah mati, dalam hirarki doktrin eskatologi Islam, dipercaya terjadi setelah kehancuran kosmos, tepatnya setelah kiamat usai. Sejak masa jahiliah hingga era modern, kaum sekuler sulit menerima doktrin ini. Mereka terjebak pada kebanggaan akan daya akal yang dangkal yang mengungkungi pengetahuan mereka. Pertanyaan ontologis mereka adalah: ”Mungkinkah setelah mati manusia bisa kembali bangkit?”. Lalu disusul dengan pertanyaan yang mengundang polemik: ”Apakah yang dibangkitkan hanya jiwa atau raga atau keduanya?

Dalam perspektif pemikiran Islam dikenal Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd yang mempercayai bahwa hanya jiwa manusia yang kelak dibangkitkan Tuhan. Sedangkan ulama lain seperti al-Ghazali meyakini keduanya, yakni jiwa dan raga. Argumen al-Ghazali yang bersifat fisikal ini didasari oleh kenyataan bahwa Allah dengan begitu mudah menciptakan jiwa dan raga. Bagi al-Ghazali, bukan hal yang sulit bagi Allah, setelah kiamat nanti, membangkitkan manusia baik secara fisikal (materi) maupun secara ruhaniah (jiwa / immateri). Bukankah dengan mudahnya pula Allah mengatakan:

QS. Al-Qashash [28] ayat 88

Segala sesuatu akan hancur kecuali Dia sendiri” (QS. Al-Qashash [28] ayat 88).

Begitu pula dalam surat al-An’am [6] ayat 94:

surat al-An’am [6] ayat 94

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya”.

Inilah paham ortodoksi al-Ghazali tentang doktrin eskatologi  yang merambah dunia Islam yang nyaris berlaku secara baku, standar, dan final.

Ulama lain, yakni Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd berpendapat yang dibangkitkan kelak oleh Allah hanya jiwa atau bersifat spiritual. Bagi mereka, penggambaran al-Qur’an tentang surga dan neraka yang sangat bersifat fisikal hanya sekadar ilustrasi bagi orang awam. Tepatnya, agar dapat dimengerti secara rasional-argumentatif. Buktinya, Nabi SAW pernah berpesan: ”Surga tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbersit di dalam hati manusia”.

Hanya saja tesis seperti di atas, secara praksis, dalam dunia Islam tidak mampu menjadi arus utama. Alasannya, secara psiko-teologis, sifat manusia yang selalu mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat, lahir dan batin, fisikal dan spiritual, ternyata pendapat al-Ghazali lebih mendominasi.

Advertisements

One thought on “Seri Asmaul Husna: Al-Baa’its ‎(Yang Maha Membangkitkan / The Resurrector)‎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s