Seri Asmaul Husna: Al-Qawiy (Yang Maha Kuat / The Strongest)

Al-Qawiy background

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Sungguh, mereka yang hidup di bawah tirani Fir’aun menyangka Raja Ramses II itu begitu kuat. Ia tak akan terkalahkan apalagi setelah mengaku sebagai tuhan. Tak lama, ternyata Fir’aun yang jenggotnya sempat ditarik Nabi Musa itu tenggelam tak berdaya. Ia sesaat sempat mengiba kepada Tuhan Yang Esa, Allah SWT. Dalam kaca mata sejarah, nasib Kaum Aad, Tsamud, dan Madyan begitu juga.

Kendati telah beroleh negeri yang kaya dan jaya tetapi mereka tak kuasa berhadapan dengan angin kering dan banjir. Sungguh, orang-orang kuat datang dan pergi pada setiap kurun. Pun  di negeri kita, Amerika, Kuba, Malaysia atau di mana saja. Setelah menjadi digdaya dan adikuasa, berangsur-angsur mereka melemah, tak berdaya dan nirkuasa.

Sadarkah manusia setelah beragam pelajaran Allah berikan? Tidak. Inilah, kata orang bijak, letak keunikan manusia yang disempurnakan dengan kekurangannya: tidak pandai menguak hikmah di balik kisah. Mereka lebih suka menafikan kebesaran yang sesungguhnya kecil. Terpesona pada kekuatan temporal yang menggoda padahal secara fundamental rapuh. Layaknya gelembung buih di lautan. Bahkan di antara manusia ada yang senantiasa tertipu dan keliru. Misalnya, mereka tertipu oleh sesuatu yang dianggapnya mulia padahal hina, abadi tapi sebenarnya serba-nisbi, seolah senang tapi pada akhirnya membuat terpelanting dalam kesengsaraan.

Kini, kembali kita diinsyafi dengan sifat Allah sebagai al-Qawiy. Dan memang, seperti dikatakan oleh Prof Quraish Shihab, secara umum dapat dikatakan bahwa sifat al-Qawiy atau Yang Maha Kuat, dipaparkan dalam al-Qur’an dalam konteks menghadapi para pembangkang. Dari sembilan kali kemunculannya dalam al-Qur’an, tujuh ayat yang mensifati Allah dengan sifat al-Qawiy dirangkaian dengan sifat al-Aziz. Dua lainnya digandengkan dengan kata “syadid al-iqab” atau Yang Maha Pedih Siksa-Nya. Mengapa demikian? Karena orang-orang yang menjadi obyek ayat ini sudah terlalu jauh melangkah dalam dosa, lari meninggalkan kebenaran dan petunjuk-Nya. Misalnya, dalam al-Qur’an surat Huud [11] ayat 66, Allah membuktikan kepada mereka yang durjana dan membangkang bahwa mereka tidak akan diselamatkan oleh Allah. Dengan mengutus Nabi Shaleh, nabi yang berasal dari kaum mereka, Allah kembali “membujuk” mereka untuk memegang teguh kebenaran, tidak hidup membabi dan membuta di muka bumi. Tapi mereka menolak Nabi Shaleh dengan tidak memperdulikan ajakan dan ajaran kebaikannya, bahkan sebaliknya keangkaraan dan kemurkaan yang mereka tebar kian menjadi hingga menimbulkan huru dan hara serta malapetaka. Apa akhir dari semua ini? Al-Qur’an menceritakan bahwa mereka mengakhiri hidupnya secara “mal-bahagia”. Mengapa? Karena kekuatan Allah meliputi mereka semua.

Sebagai pelajaran bagi manusia sepanjang zaman, Allah rekam peringatan-Nya tersebut di dada para penghapal al-Qur’an, yakni:

QS Huud [11] ayat 66

Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS Huud [11] ayat 66).

Sekali lagi, kita bertanya: “sejalan dengan ayat di atas, apakah saat ini masih ada orang-orang yang senantiasa menolak ajaran dan ajakan “Nabi Shaleh” modern?”

Sepertinya di abad kini para pembangkang kian berkembang, dan sejarah tampaknya sudah berulang. Mereka yang senantiasa berlindung di bawah payung kekuatan Allah, niscaya hidupnya mulia dan penuh rasa bahagia. Seberapapun besar azab dan sengsara yang mendera (karena ulah para pembangkang), “kaum Nabi Shaleh” tetap hidup optimis, tidak sinis kepada mereka yang kaya dan berprestasi. Mereka juga tidak memaki-maki pemimpin dan menghujat pejabat yang gemar menelantarkan orang banyak. Karena mereka lebih tepat didoakan, dinasehati. Kalau dengan cara tersebut tidak membuat mereka bergeming, maka baru kita serahkan para pembangkang itu kepada Dia Yang Maha Kuat dan Yang Maha Pedih Siksanya, di mana kaum Nabi Shaleh yang membangkang sudah membuktikan Ke-Maha-Kuatan-Nya.

Advertisements

2 thoughts on “Seri Asmaul Husna: Al-Qawiy (Yang Maha Kuat / The Strongest)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s