Selamat Berjuang Puteraku!

Masjid Jami Ar-Ridho_PP Ar-Ridho Sentul

Hari ini, Selasa, 11 Juli 2017 bertepatan dengan 17 Syawal 1438 merupakan hari pertama putera bungsu kami,  Muhammad Faisal Hakim, masuk ke Pondok Pesantren Modern Ar-Ridho Sentul yang berlokasi di Kp. Parung Aleng Desa Cikeas, Kec. Sukaraja Kab. Bogor – Indonesia (untuk panduan peta Google Maps klik di sini). Alhamdulillah, dia kelihatan mantap dengan pilihannya menjadi santri di PP Ar-Ridho. Tambahan, biaya masuk di pondok ini pun terbilang “tidak mahal”, apalagi jika dibandingkan dengan pondok tempat di mana kakaknya belajar yaitu Pondok Pesantren Daar el Qolam, Gintung Jayanti, Tangerang, Provinsi Banten.


PP Ar-Ridho yang sejuk dan asri, dilengkapi dengan outbond yang bikin anak-anak betah berlama-lama sambil menikmati permainan dan pemandangan alam yang indah


Mungkin ada pertanyaan, “mengapa harus ke pesantren?” (Jika ingin mengetahui makna kata “pesantren” silahkan baca pembahasan mengenai “pesantren” Wikipedia dan situs Iqra’ Bismirabbika). Penulis mempunyai beberapa alasan yang mungkin cenderung subyektif yaitu:

  1. Pesantren adalah lembaga pendidikan terbaik. Pesantren tidak hanya mengambil tanggung jawab orang tua sebagai pendidik namun sekaligus pengasuh. Dan hal ini tidak diperoleh pada lembaga pendidikan lainnya bagaimana pun mahalnya! Betapa tidak, santri tinggal di pesantren selama 24 jam dan secara terus menerus mereka “digembleng dan dididik” oleh para Kyai dan para ustadz. Tak ada istilah “nganggur” di pesantren. Meskipun masih banyak orang tua yang memandang “sebelah mata” kepada lembaga pendidikan pesantren ini. Belum lagi banyak anak-anak yang merasa “dibuang” ketika harus masuk ke pesantren.  Dan masih banyak lagi alasan “orang tua dan anak enggan masuk ke pesantren”. Tapi itu dulu. Sekarang kenapa tidak dicoba dulu?
  2. Anak belajar di pesantren, orang tua tenang mencari nafkah. Ya, betapa tidak tenang para orang tua yang menitipkan  anak-anak mereka di pesantren karena meskipun anak-anak mereka tidak bersama mereka namun mereka yakin dan percaya bahwa anak-anak mereka aman dan terjaga. Hal ini tidak akan terjadi jika anak bersekolah di luar pesantren betapa pun mahalnya. Misalnya, putera atau puteri anda belajar di sekolah di luar pesantren, maka waktu mereka di sekolah paling lama hanya sampai jam 17.00 atau jam 5 sore. Setelah itu, mereka akan kembali kepada orang tuanya dan jika mereka pulang terlambat orang tua tentunya sudah gelisah luar biasa!

Dan masih ada segudang alasan lain yang dapat dikemukakan. Meskipun (barangkali) semua alasan tersebut cenderung subyektif, namun itulah yang penulis alami dan rasakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s