Seri Asmaul Husna: Al-Waliy (Yang Maha Melindungi / The Protector, The Supporter)

Al-Waliy

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Ada formula untuk meredam konflik vertikal dan horisontal yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Selama ini masing-masing pihak suka menjauh, tidak suka mendekat. Rakyat menghujat penguasa dan penguasa meninggal-lari rakyat yang sedang terjungkal. Formula itu adalah saling-mendekat, saling-merapat. Buahnya adalah: rakyat dan penguasa jadi saling mendukung, saling membela, dan saling mencinta. Inilah personifikasi makna al-Waliy yang dilempar Allah ke bumi, supaya diinsyafi dan menjadi solusi. Tapi, seperti biasa manusia lebih banyak yang tidak peduli.  Inilah dimensi politik makna al-Waliy yang selalu menjadi topik pembicaraan menarik, baik oleh kalangan yang berpegang teguh pada ajaran agama maupun oleh kalangan sekuler.

Kalangan sekuler memandang dunia politik sebagai wilayah bebas yang bisa dijelajahi oleh siapa saja tanpa harus memenuhi kualitas keagamaan. Politik terbuka bagi partisipasi publik dan berbagai proses yang terjadi di dalamnya tidak berkait dengan ajaran agama tertentu. Pandangan seperti ini menyulut perdebatan yang hingga kini belum berakhir, terutama bagi kalangan yang mengatakan bahwa politik tak lain sebagai ruang publik yang terkait erat dengan ajaran agama. Bahkan ulama adalah kelompok yang paling representatif untuk mengisi kedudukan politik sebagai realisasi ajaran agama yang bersifat mutlak.

Bagi umat Islam makna sosial-politik al-Wali sebenarnya bisa dikaitkan  dengan pertanyaan: apakah kerasulan Nabi Muhammad SAW memiliki kaitan dengan persoalan politik; atau apakah Islam merupakan agama yang terkait erat dengan urusan politik dan pemerintahan; dan apakah Islam membuat sistem, bentuk, dan prinsip-prinsip pemerintahan secara jelas? Lalu bagaimana hubungan Islam dan politik? Dalam hal ini terdapat empat model, yaitu: 

Pertama: Model Konservatif 

Mereka berpendapat bahwa ajaran  Islam itu lengkap sekali, ia menyangkut hubungan manusia dengan  Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Al-Qur’an dan sunnah Nabi memberi petunjuk yang jelas tentang apa arti sistem khilafah dan apa tujuan dari sebuah negara. Tokoh-tokoh dari aliran ini adalah Abu al-A’la al-Maududi, Sayyid Quthb, Hassan al-Banna. Argumentasi mereka, ketika Nabi SAW memimpin pemerintahan Islam di Madinah, jabatan administrasi pemerintahan dan pemimpin spiritual dia pegang sendiri. Nabi adalah panglima angkatan bersenjata dan sekaligus bertugas sebagai pejabat yudikatif. Hal ini dapat dimaklumi mengingat Madinah baru saja berdiri. Dalam hal ini sejarah mencatat betapa kemampuan Rasulullah SAW dalam melaksanakana tugas rangkap tersebut bukan saja selama masa kepemimpinannya di negara Mekah dan Madinah saja, tetapi sudah menjelma menjadi satu kekuatan yang luar biasa di jazirah Arabia.

Kedua: Model Liberal

Model kedua ini  berpendapat sebaliknya, bahwa Islam dan agama tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Aliran ini berpendapat  bahwa agama terpisah dari negara, supaya keduanya, baik agama maupun negara dapat tumbuh dengan subur. Adapun Nabi SAW menurut pendapat aliran ini hanyalah Rasulullah dan tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi kepala negara. Para pendukung aliran ini antara lain Thaha Husein dan Ali Abd al-Raziq. Menurut pendapat model kedua ini, Islam tidak hanya merupakan masyarakat spiritual yang sederhana, tetapi juga merupakan negara dan imperium yang sangat berpengaruh di dunia. Bagi mereka Islam tumbuh sebagai sebuah gerakan politik keagamaan yang luar biasa di mana agama menyatu dengan pemerintahan dan masyarakat. Orang Islam yakin benar bahwa Islam itu mencakup keimanan dan politik yang pengaturannya sudah ada di dalam al-Qur’an dan hadits Nabi saw. Semuanya itu sudah direfleksikan ke dalam doktrin Islam, sejarah dan politik.

Ketiga: Model Modernis

Pemikir yang menonjol dari kelompok ini adalah Jalaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida. Kelompok modernis mengajukan upaya reformasi dalam rangka menemukan kembali rasionalisme, saintisme, dan progresivisme dalam Islam. Kelompok ini termasuk aliran keagamaan yang berangkat dari asumsi bahwa untuk dapat memulihkan kejayaan Islam, harus ada purifikasi ajaran agama, seperti pernah dirintis Ibn Taymiyah.

Advertisements

3 thoughts on “Seri Asmaul Husna: Al-Waliy (Yang Maha Melindungi / The Protector, The Supporter)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s