Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Ketika tersiar kabar negeri ini kekurangan persediaan pangan, banyak pihak merasa gusar. Kendati rasa gusar itu bermakna beda bagi rakyat jelata, penguasa, dan pengusaha. Tapi yang pasti, ada korelasi antara bahagia dan terpenuhinya kebutuhan perut, dan merana dengan pangan yang langka. Sepertinya kebahagiaan tertinggi bangsa kita baru sampai di perut dan di bawah perut.

Kita tetap bergeming pada sabda E. F. Schumacher, seorang ekonom kelahiran Jerman dan pengarang buku Small is Beautiful (Kecil itu Indah). Menurutnya, kebahagiaan manusia itu harus terus melaju menuju yang lebih tinggi, berkembang bersama talenta insaninya, terus meraih pengetahuan puncak, bahkan jika bisa manusia harus ‘bertatap-muka dengan Tuhan”. Jauh sebelum E. F. Schumacher, Rasulullah SAW pernah menebar kata-kata bahwa “tidak termasuk kaumnya orang yang begitu saja membiarkan tetangganya lapar – meranggas sementara ia terlelap tidur.”

Kita menghargai sumbang-pikiran kaum cerdik pandai yang berbagi empati ihwal strategi pertahanan pangan di negeri ini. Dan mestinya diinsyafi bahwa stok pangan kita aman. Riuh-rendah terjadi lebih karena kita tidak cerdas-berbagi, miskin strategi-hati, dan belum terlatih berempati-nurani. Bila saja kita mau bersuluh, baik hati maupun pikiran, kemiskinan dan kekurangan makan yang melanda kita itu adalah beyond-economic.

Mari kita tafsiri terminologi “negeri” yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Nahl [16] ayat 112  yang maknanya:

QS al-Nahl [16] ayat 112‎

Dan Allah telah membuat  suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya  aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.

Dalam al-A’raf [7] ayat 96, Allah juga berfirman:

QS al-A’raf [7] ayat 96

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Advertisements

Pages: 1 2 3