Seri Asmaul Husna: Al-Jaliil (Yang Maha Luhur / The Majestic, The Revered, The Sublime

Al-Jaliil Background

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits qudsi:

“…Kalau Aku sudah mencintaimu, maka ketika kamu melihat sesungguhnya kamu melihat dengan penglihatan-Ku, ketika kamu mendengar, kamu mendengar dengan pendengaran-Ku. Kalau kamu minta pertolongan, akan Kutolong segera, dan jika kamu meminta perlindungan, kamu akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari).‎

Masalahnya, sanggupkah kita mengarahkan diri untuk selalu ada dalam cinta-Nya, perhatian-Nya, ‎pertolongan-Nya, dan perlindungan-Nya? Untuk dicintai-Nya kita harus mencintai-Nya. Agar selalu ‎ditolong, diperhatikan, dan dilindungi terlebih dahulu kita harus berbakti dengan sepenuh hati ‎kepada-Nya dan juga makhluk-Nya. Perilaku luhur seperti ini merupakan refleksi keimanan seorang ‎hamba dan bukti bahwa sifat Ke-Maha-Luhuran Allah itu diteladani.‎

Ke-Maha-Luhuran Allah itu tidak hanya bergelantungan di angkasa, seperti tegaknya langit tanpa ‎tiang, berotasinya  triliunan benda angkasa, tetapi sifat al-Jalil (Maha Luhur) itu melingkupi Dia Yang ‎Maha Kaya, Maha Kuasa, Maha Suci, Maha Mengetahui, dan Maha Menentukan. Jadi, al-Jalil adalah ‎sifat Zat yang sempurna Kebesaran-Nya dan paripurna Keagungan-Nya. Tidak ada apa dan siapapun ‎yang menandingi Zat, Sifat, dan perbuatan-Nya.  Ia bukan berbentuk fisik, tidak butuh sesuatu, ‎tidak lemah dan menafikan diri-Nya dari segala sesuatu yang tidak wajar bagi-Nya.‎

Kendati tidak ditemukan kata “jalil” dalam al-Qur’an, tetapi dalam al-Qur’an surat al-Rahman [55] : 27 ‎dan 78, Allah menggambarkan diri-Nya sebagai Pemilik Jalal (Keluhuran):

QS al-Rahman [55] : 27

Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai keluhuran dan kemuliaan. (QS al-Rahman [55] : 27)

QS al-Rahman [55] : 78

Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai keluhuran dan karunia”. (QS al-Rahman [55] : 78)

Bagi Prof. Quraish Shihab, pemilik al-Jalal tak lain adalah Allah al-Jalil. Pun kemuliaan yang disandang Allah terhimpun di dalam sifat itu.‎

Mengenai sifat ini al-Ustadz Mahmud Samiy dalam Mukhtashar fi Ma’ani Asma’ Allah al-Husna ‎mendeskripsikan bahwa al-Jalil adalah Zat yang mengumpulkan sifat-sifat Allah secara mutlak. ‎Sebab, semua keelokan, kesempurnaan, dan kebaikan yang ada di alam ini semua berasal dari ‎cahaya Zat-Nya dan bekas-bekas sifat-Nya. Karena itu mereka yang mengenal-Nya dan yang ‎memandang keelokan-Nya merasa senang, lezat, nikmat, gembira dan bahagia. Jadilah Allah Zat ‎yang Jalil sekaligus Jamil vis-à-vis semua makhluk. Dengan demikian, Allah adalah Zat Yang Luhur ‎dan dicintai dan dirindukan. ‎Hanya saja, mereka yang rindu kepada-Nya dan beroleh keindahan saat memandang-Nya ‎berselubung rahasia. Karena orang yang buta tidak bisa mengenali apa-apa di depan matanya ‎kendati keindahan itu bisa membuatnya pingsan atau bahkan kehilangan nyawa. Bagi mereka yang ‎terbuka mata hatinya, menjadi nyata bahwa keluhuran dan keindahan sifat Allah itu melampaui ‎segala sesuatu yang dikenalnya atau tidak pernah melayang dalam memorinya. ‎Sayangnya, kini banyak di antara kita yang tetap berbahagia menjadi “orang-orang buta” dengan ‎menganggap bahwa dirinya mengetahui apa saja dengan mata kepala.‎

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s