Seri Asmaul Husna: Al-Kabiiru (Yang Maha Besar / The Most Great)

Al-Kabiiru background

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Konsepsi tentang Kebesaran Allah tidak memadai bagi pemahaman kita. Seorang  sufi asal Turki, yakni Syekh al-Jerrahi membuat ibarat. Katanya, “Jika kita memiliki kendaraan yang kecepatannya seperti yang kita pikirkan dan bayangkan, dan jika kita mengendarainya pada jalan yang lurus, pada satu arah, menuju kedalaman langit, menempuh jarak yang tidak terukur dengan melewati jutaan matahari dalam setiap detik, dan jika kita hidup bermilyar-milyar abad, maka yang kita tempuh hanyalah segelintir alam semesta”.

Sangka kita terlalu kecil tentang alam semesta, dan akal kita tak sepadan bersanding dengan Ke-Maha-Besaran-Nya. Tetapi, mengapakah manusia selalu merasa besar, kuasa, dan tinggi? Padahal dalam al-Qur’an, Allah telah mendeklarasikan bahwa Dialah sebagai Yang Maha Besar. Misalnya:

QS. al-Ra’d [13] : 9

Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak. Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi” (QS. al-Ra’d [13] : 9).

Dalam QS. al-Hajj [22] : 62, Allah katakan:

QS. al-Hajj [22] : 62

Kuasa Allah yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang benar dan sesungguhnya  apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

QS. Saba [34] : 23

“… Mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar”. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. Saba [34] : 23).

Pun ayat 34 dalam surat al-Nisaa [4], yakni,

al-Nisaa [4] ayat 34

Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Secara bahasa, al-Kabir berarti lawan dari kata kecil. Menurut Laleh Bakhtiar, penulis buku The Sense of Unity: The Sufi Tradition in Persian Architecture, al-Kabir sebagai sifat Allah adalah ungkapan kesempurnaan zat yang ditandai minimal oleh dua hal, yaitu:

Pertama, Keabadian-Nya, baik masa lalu maupun masa depan

Dialah awal yang tanpa permulaan dan akhir yang tanpa akhir. Dia kekal abadi. Selain Allah selalu melalui proses berkurang, mengalami kepunahan dan dimakan usia.

Kedua, Keberadaan Allah merupakan sumber terpancarnya eksistensi semua 
makhluk.

Bisa dimengerti kalau ayat-ayat tentang al-Kabir (Yang Maha Besar) diikuti dengan al-Aliy dan al-Muta’aliy. Sebab semesta raya tunduk karena Kebesaran-Nya dan manusia dalam makro kosmos bersujud kepada-Nya karena ketinggian-Nya.

Advertisements

One thought on “Seri Asmaul Husna: Al-Kabiiru (Yang Maha Besar / The Most Great)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s