Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Paham kebendaan (materialisme) begitu rapat menyelimuti kehidupan kita. Buktinya, ketika media massa memberitakan daya saing Indonesia di pentas dunia melorot pada urutan ke – 41 dari 138 negara (Kemenperin, 2016), seolah rakyat di seantero negeri ikut terpelanting ke dunia yang asing. Namun, manakala marak diberitakan bahwa daya saing bangsa ini meninggi, menduduki peringkat ke-42 dari 63 negara (Berita Moneter.com, 2017), semua anak negeri kembali percaya diri dan merasa bertengger di ketinggian.

Layaknya balita yang infantilis, kita begitu menyukai pujian, ketinggian, dan segala sesuatu yang tinggi, mewah, dan megah, baik secara ruang maupun urutan. Mengapa demikian? Sadar maupun tidak, ini merupakan bagian dari fenomena the hollow man atau manusia kosong. Yakni, manusia yang disentuh modernitas secara fisik, tetapi secara metafisik – spiritual mengalami kehampaan makna hidup. Di seluruh dunia, indikasinya seragam: mencintai ketinggian dan sekaligus takut di tengah ketinggian, merasa kesepian di tengah dunia yang bising. Penyebabnya, antara lain, (1) tak kuasanya manusia mengimbangi transformasi sosial dengan tameng spiritual, (2) pola-hubungan antarmanusia tak lagi atas dasar cinta, tetapi kepentingan dan kebutuhan. Di samping itu, (3) dunia kian menjadi desa global dan melebur masyarakat tradisional menjadi tran-nasional, masyarakat homogen menjadi heterogen, dan stabilitas sosial yang digantikan oleh mobilitas sosial. Ketika kondisi ini mendera, bukanlah apologetik, bila formula spiritual kembali kita kedepankan. Tepatnya, menelusuri secara mendalam makna transendental dan  imanen ihwal pernyataan Allah yang mendeklarasikan diri sebagai Yang Maha Tinggi atau Al-‘Aliy. Alasannya, dari 11 (sebelas) kata al-‘Aliy yang muncul dalam al-Qur’an, ada dua di antaranya merujuk sebagai sifat yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Dalam konteks Indonesia, itu artinya kita memiliki potensi keilahian sehingga bisa berdiri secara tegak-kokoh, mandiri, bermartabat, tak selamanya mengekor dan menggantungkan hidup kepada bangsa lain. Upaya ini, lekat relevansinya bagi kita untuk membangun negeri melalui tangan dan ilham para manusia unggul. Hanya saja, apakah al-‘Aliy itu dan seperti apa spektrum  makna holistiknya?

Secara bahasa, al’Aliy berarti “ketinggian, menaklukkan, dan mengalahkan”. Memang sesuatu yang lebih tinggi, dalam konteks apa saja, bisa dengan mudah menaklukkan dan mengalahkan yang lebih rendah, miskin, bodoh, lemah, dan terbelakang. Lebih jauh “ketinggian” mengandung konsep kenaikan, kekuatan, kesejahteraan, dan tak tertandingi. Dalam bahasa Arab, kata yang memiliki derivasi  sama dengan al-‘Aliy adalah al-‘Ala, al-‘Aaliy, dan al-Muta’aliy. Ketiganya masing-masing berarti Yang Paling Tinggi, Yang Tinggi, dan Yang Maha Tinggi. Dan kata ta’ala yang menjadi sifat Allah di belakang nama-Nya, diartikan sebagai Maha Agung yang pujian seperti apapun tidak bisa mewakilinya karena Allah tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya.

Ketika al-‘Aliy disandingkan sebagai sifat yang melekat kepada Allah, maka itu berarti Allah Maha Tinggi yang di atasnya tidak ada derajat lain. Ketinggian Allah melampaui batas-batas materi, tidak bisa diukur, dibayangkan, dan diverifikasi. Dengan begitu ketinggian Allah berbeda dengan tingginya gunung, bintang-gemintang di angkasa, akal dan ilmu pengetahuan manusia, apalagi kedudukan dan kekuasaan manusia yang tinggi. Mengapa? Karena ketinggian Allah berasal dari diri-Nya sendiri, bereksistensi di dalam diri-Nya sendiri, tidak ada nisbah yang layak diperbandingkan dengan ketinggian-Nya. Termasuk, Allah tidak menempati tempat yang tinggi (‘Arasy), seperti sangka sebagian orang. ‘Arasy hanyalah tempat tertinggi yang Allah ciptakan dan dicitrakan penuh kesucian.

Advertisements

Pages: 1 2 3