Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Pendengaran adalah indera vital yang dimiliki manusia. Sedikit saja terganggu, maka informasi menjadi tidak akurat, simpang siur, dan seringkali menimbulkan persepsi keliru. Miliaran orang di bumi saat ini sedang mendengar dan sekian banyak pula orang yang lalu mengolah, menganalisis, dan selanjutnya merespons secara kreatif apa yang mereka dengar.

Berawal dari pendengaran ini muncul kebaikan, kedamaian, cinta, kebijakan yang membela hak-hak rakyat. Pun dari kesalahan mendengar ini juga muncul fitnah, peperangan, penindasan, kemiskinan dan pemiskinan, termasuk malapetaka dan malnutrisi di mana-mana.

Dalam terminologi al-Qur’an, kata As-Sami’ adalah sebuah kata benda yang merujuk kepada sifat Allah Yang Maha Mendengar. Karena merujuk kepada Allah, kata ini berarti mendengar, mengabulkan, atau merespon secara akurat tentang sesuatu yang tampak, tidak kasat mata, kasar dan halus, jauh atau dekat, terang-gelap dan bahkan terdengar atau tidak terdengar.

Maksudnya, Allah mendengar secara pasti setiap bunyi, tanpa alat,  setiap suara yang sangat halus sekalipun. Di ujung benua terjauh, di tengah hiruk-pikuk dan pekaknya dunia suara, Allah menangkap suara gesekan pohon di rimba, tetesan air, desah napas angin, ombak, dan turun-naik napas kita. Semua tidak luput dari jangkauan-Nya. Dan semua itu, didengar Allah secara pasti, akurat, dan berbuah kebaikan dan perbaikan untuk semua.

Berdasar sifat Allah sebagai As-Sami’, sejatinya kita bukan hanya mendengar dengan daun telinga. Karena indera itu serba nisbi, terbatas, dan sangat dipengaruhi oleh keadaan, perubahan alam, dan aneka kepentingan. Misalnya, ketika  di ujung pulau paling Timur terjadi tragedi kekurangan pangan yang berujung kematian, bisa ditanggapi bermacam-macam, padahal suara jeritan kelaparan dan histeris kematian itu memekakkan telinga.

Kita harus mendengar dengan hati, dalam arti bukan hanya mendengar tangisan, jeritan, atau pekik protes, tetapi yang lebih halus dari itu, yakni keinginan tanpa suara: hidup dilindungi, sehat, cukup pangan, pendidikan, bebas buka suara, dan mendapat kesempatan yang sama untuk sama-sama bekerja dan bekerja sama.

Pendengaran kita sejatinya bertuah sosial dan spiritual sekaligus. Allah sebagai As-Sami’ sendiri memberi ganjaran bagi hamba yang memuji, membesarkan, dan senantiasa membenarkan semua keputusan-Nya. Sebaliknya memberikan punishment, bagi yang durhaka, menebar teror, berbuat kerusakan, termasuk mangkir kepada pemimpin.

Bagi rakyat yang begitu mematuhi dan mencintai pemimpinnya, setia mengikuti peraturan dan kebijakan yang dibuat pemerintah, pantas kalau mereka mendapat prioritas pertama untuk didengar, dibela, dan diselamatkan. Inilah pendengaran yang dirahmati Allah, berdasar fakta-data lalu berbuah perbaikan sosial, kekuatan integrasi, peningkatan spiritual sebagai bekal menjadi bangsa unggul. Jadi, umat bukan satu entitas yang pantas ditindas, dirampas, digilas, dilibas, dan ditebas, dicincang, dan dipanggang. Karena umat itu adalah kita sendiri. Rakyat adalah kita semua.

Advertisements

Pages: 1 2 3