Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


Cinta, kata Erich Fromm, adalahtindakan yang aktif, bukan perasaan yang pasif. Sifat cinta itu memberi bukan menerima. Ia lahir dari sebuah keputusan yang bersendikan akal bukan khayal.” Karena itu, sebagai bukti  takhalluq atau meneladani akhlak Allah yang al-Bashir, bisa dilakukan dengan memberikan sesuatu yang paling dicintai kepada sesama. Bukan hanya melihat mereka yang tertimpa musibah dan nestapa. Tetapi kita harus bersadar diri bahwa Sang Maha Melihat kerap memonitor: tindakan filantropi apa yang kita lakukan setelah melihat realita yang perih tak berperi.

Keyakinan bahwa Allah hadir dan melihat secara profan seperti inilah yang oleh filosof Jerman Max Scheler dikatakan menjadi dasar perilaku ruhaniah. Diawali dari melihat secara inderawi, lalu direspon secara rasional, kemudian mengendap menjadi cinta dan tindakan nyata. Jadi, sifat Allah sebagai al-Bashir itu sejatinya harus melekat dalam diri manusia. Sebab Allah selain Theos Agnostos (yang tak terjangkau / the untouchable) juga Theos Relevatus, yakni Ia hadir dengan sifat-sifatnya dalam diri manusia. Al-Bashir bukan hanya diutak-atik dalam jumlah dan dunia angka. Tidak hanya menjadi wirid. Sebab Tuhan “tidak hanya menggantung di langit”, tetapi itu tadi, Theos Relevatus:  berakar dengan kokoh di bumi. Dalam konteks seperti ini, semangat teladan al-Bashir sedianya menjadi kritik dan koreksi terhadap model keberagamaan kita selama ini. Hendaknya semarak kehidupan spiritual-keagamaan yang menghentak dan diperagakan secara massif di muka publik, sebanding dengan solidaritas pada ranah kehidupan sosial-kemanusiaan.

Berbakti kepada al-Bashir tidak semata ditandai oleh kian banyaknya orang berhaji, tumbuhnya pendidikan Islam, meriahnya dakwah, menjamurnya tempat ibadah, ramainya perayaan keagamaan di istana negara, atau kian banyaknya artis dan selebritis yang beraksen keagamaan. Namun semua ritual dalam Islam meliputi gerak fisik, batin dan karya nyata yang fungsional untuk menyelesaikan problem kemanusiaan, sosial, dan ekonomi. Inilah tujuan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Termasuk, pernyataan Allah dalam sebuah hadits qudsi: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku rindu untuk diketahui. Aku menciptakan makhluk supaya mereka mengenal-Ku”.

Dus, semakin  kita kenali Allah, maka kian mampu menatap yang tampak dan sesuatu yang ada di balik yang tampak. Musibah dan segala cerita sedih bangsa ini tidak hanya dilihat secara sosiologis, akibat human error (kesalahan manusia), atau lemahnya sistem komunikasi, tetapi dilihat dari kaca mata spiritual. Inilah mengapa Allah rindu untuk dikenal. Dia ingin agar kita melihat dengan mata dan mata hati sekaligus. Yang terakhir inilah yang disebut dengan bashirah.

Advertisements

Pages: 1 2 3 4