Seri Asmaul Husna: Al-Mu’id (Yang Maha Mengulangi / The Restorer)

Al-Mu'id background

 

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, M.A


 

Dalam praktik politik Islam masa silam, para penguasa cukup banyak yang mengulang-ulang kembali kebaikan. Sebut misalnya, Umar bin Khathab, Umar bin Abdul Aziz, Abu Dzar al-Ghifari. Mereka memperagakan sifat Allah sebagai al-Mu’iid, yakni Yang Maha Mengulangi / Yang Maha Mengembalikan Kehidupan. Semua yang diulangi Allah adalah kebaikan. Ia mengembalikan segala sesuatu yang telah diciptakan. Tugas mendesak kita saat ini adalah mengulangi semua kebaikan itu demi perbaikan negeri ini. Kebaikan seperti apa yang kembali harus kita ulangi dan teladani?

Pertama, kita harus selalu mengulangi perhatian dan cinta-kasih kita kepada sesama.


Dengan sangat mendebarkan Umar bin Khathab telah memberikan teladannya kepada kita.

Dikisahkan, ketika Umar bin Khathab menjabat sebagai penguasa, di suatu malam Umar berkeliling kota bersama seorang pembantunya. Kala itu, semua rumah gelap menandakan penghuninya sedang tidur nyenyak. Ada satu rumah yang pintunya masih terbuka sedikit. Karena tertarik, Umar mendatanginya. Ternyata ada tangis seorang anak yang suaranya hampir habis karena lelah menangis. 

“Mengapa anak itu menangis terus, apakah ia sakit?” Tanya Umar. Seorang ibu menjawab, “Tidak, dia menangis karena lapar.” 

Umar melihat ke dalam, di tungku ada api yang menyala dan di atasnya ada kuali yang menandakan si ibu sedang memasak sesuatu. “Tapi ibu kelihatannya sedang memasak. Apa itu yang sedang dimasak?” Kembali Umar bertanya.

Si Ibu mempersilakan kedua tamunya yang tak dia kenal itu untuk melihat sendiri isinya. Betapa terpana Umar setelah dilihatnya kuali itu berisi batu. “Mengapa ibu rebus batu itu?” Ibu itu menjawab, “Supaya anakku tahu seolah-olah ibunya sedang memasak dan berhenti menangis, “Itu yang dapat saya lakukan sampai Anda datang,” katanya. 

Terharu Umar mendengarnya, matanya tertunduk ke bawah dan menggeleng sedih. Saat itu pembantu Umar mengatakan, “Apakah ibu tidak tahu, di Madinah ada Amirul Mukminin di mana ibu dapat memberitahukan keadaan ini untuk mendapat pertolongannya?” 

Spontan ia menjawab, “Andai di kota ini memang ada seorang khalifah, ada Amirul Mukminin, maka dialah yang seharusnya datang kepada kami untuk melihat nasib kami yang kelaparan ini. Bukan saya yang mesti datang kepadanya.” 

Mendengar perkataan itu Umar bin Khathab langsung lemas kedua kakinya. Ia bergegas mengajak pembantunya pergi untuk mengambil sepikul gandum. Ketika Khalifah Umar yang sudah tua itu akan memikulnya sendiri, pembantunya melarang, “Biarlah saya yang membawakannya untuk ibu itu, ya Amirul Mukminin,” katanya. “Tidak,” jawab Umar, “Akulah yang bertanggung jawab kepada Allah, baik dunia dan akhirat atas kejadian ini. Bukan kamu” Umar memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang kelaparan itu.

Advertisements

5 thoughts on “Seri Asmaul Husna: Al-Mu’id (Yang Maha Mengulangi / The Restorer)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s