Datangnya Hari Raya Idul Fitri memang selalu dinantikan oleh kaum Muslimin. Setelah berpuasa selama sebulan penuh (dalam kalender Islam, sebulan itu kadang 29 hari atau kadang 30 hari) maka ketika hilal penanda datangnya bulan Syawal telah jelas terlihat maka itulah hari bergembira bagi umat Islam. Demikianlah pedoman yang diberikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW mengenai “kapan umat Islam harus berpuasa dan berhari raya”, sebagaimana sabdanya:

dalil rukyatul hilal

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian terhalang mendung, maka hitunglah tiga puluh bulan hari (HR Muslim no.1810, dari Abu Hurairah ra.)

Dan satu hal yang harus diingat bahwa berakhirnya Ramadhan dan datangnya bulan Syawal bukanlah waktu untuk “berpesta pora melepaskan belenggu nafsu” melainkan waktu untuk “menangis karena perginya bulan Ramadhan yang penuh berkah dan keutamaan.” Mengutip Dr. Syamsul Yakin (Siaran Depok, 2017; Blog Me4World, 2017) bahwa “Benar Ramadhan berujung Idul Fitri dan saat itu kita beroleh bahagia. Tetapi Idul Fitri itu bukan penutupan puasa. Apalagi penghalal bagi semua tindakan hura-hura, kembali mengotori diri dan berbuat dosa.”

Maka sikap yang paling arif, menurut penulis, adalah melakukan introspeksi diri (muhasabah) apakah kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini “meningkat” atau justeru “menurun dan menukik tajam” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya? Hanya Allah SWT dan kita sendirilah yang tahu.

Dan ketika Hari Raya Idul Fitri itu (akhirnya) tiba dan menghampiri kita, ijinkan penulis mengucapkan:

selamat hari raya idul fitri 1438

Advertisements