Aksi Simpatik 55 sebagai Bantahan bagi Para Penuduh!

masa aksi simpatik 55 di masjid istiqlal

Aksi Simpatik 55 yang digelar atas prakarsa GNPF MUI pada Jum’at, 5 Mei 2017 semakin mempertegas sikap umat Islam bahwa aksi yang dilakukan selama ini “murni bela agama!” Dan menurut penulis, aksi ini juga merupakan bantahan telak terhadap tuduhan sementara pihak yang mengkait-kaitkan rangkaian aksi umat Islam dengan “Pilkada DKI 2017” karena jika aksi tersebut berbau politis maka aksi tersebut sudah tidak perlu lagi karena pilkada sudah selesai! Dan aksi ini bukan bertujuan untuk intervensi pengadilan dalam hal ini majelis hakim namun sebagai dukungan moril kepada majelis hakim agar dapat menjatuhkan vonis secara independen dan tanpa tekanan atau intervensi dari siapa pun sehingga dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Tujuan utama Aksi 5 Mei atau Aksi Bela Islam 55 ini pun sangat jelas yaitu “penjarakan penista agama dengan hukuman yang sesuai dengan peraturan / hukum yang berlaku” sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penodaan agama dimana ancaman dari pelanggaran tersebut adalah penjara 5 tahun. Turunnya Umat Islam kembali ke jalan karena Jaksa Penuntut Umum hanya menuntut Ahok dengan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun padahal kasus serupa dihukum berat.

Kalau Arswendo Atmowiloto, Pimpinan Redaksi tabloid hiburan Monitor, pada terbitan edisi 15 Oktober 1990 menerbitkan hasil pilihan pembaca mengenai tokoh yang paling dikagumi dan menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan ke-11 di bawah namanya sendiri, dan untuk itu dia diganjar dengan hukum 5 tahun penjara! Ya, sejarah para penista agama di negeri ini semuanya “dijamin” masuk penjara (sumber: tirto.id, 2016). Selengkapnya silahkan baca “Mereka Dipenjara Karena Didakwa Menista Agama.” Maka jika “Ahok” yang sudah sangat jelas “melecehkan Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51” sebagaimana telah terbukti hanya dituntut dengan hukuman 1 tahun penjara masa percobaan 2 tahun. Dan umat Islam tidak bisa menerima hal tersebut karena itu artinya Ahok “bebas” dengan syarat tidak melakukan hal serupa selama masa percobaannya.

Dan untuk “ketidakadilan” itulah umat Islam kembali “berkumpul dan bergerak untuk menyuarakan dan menegakkan keadilan di bumi Indonesia tercinta ini” agar supremasi hukum dapat ditegakkan, “tidak tumpul ke atas tapi tajam ke bawah.” Sementara hukum seharusnya “adil dan tidak berat sebelah.” Perhatikanlah sabda Nabi Muhammad SAW: “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku (akan) memotong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s