Pertanyaannya adalah:

Mengapa Nabi Musa a.s yang dipilih Allah SWT untuk memberikan saran kepada baginda Nabi Muhammad SAW?

Diantara alasannya adalah:

  1. Nabi Musa a.s adalah satu-satunya nabi yang telah berbicara secara langsung kepada Allah SWT,sebagaimana firman Allah di dalam surat An-Nisaa’ [4] ayat 164:

QS An-Nisa ayat 164

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”

  1. Umat Nabi Musa a.s merupakan umat yang kuat dan gagah pada masanya.

Sesungguhnya dipilihnya Nabi Musa a.s adalah sebagai perbandingan bahwa umat Nabi Musa a.s yang demikian gagah saja (bahkan diriwayatkan bahwa mereka dapat melumatkan besi cukup dengan tangannya saja!) hanya diberikan kewajiban beribadah (shalat) 3 kali dalam sehari dan mereka “tidak mampu.” Lalu bagaimana dengan umat Nabi Muhammad SAW yang secara fisik lebih kecil (tidak segagah umat Nabi Musa a.s.) harus melakukan shalat sehari semalam 50 waktu?

Maka Nabi Muhammad SAW bolak-balik menghadap Allah SWT dan bertemu kembali dengan Nabi Musa a.s. hingga akhirnya hanya “tersisa 5 raka’at.” Namun Allah SWT telah melipatgandakan pahalanya (jika dikerjakan dengan khusyu’ karena Allah) sama dengan shalat 50 raka’at bahkan ditambahkan menjadi 27 derajat jika dilakukan secara berjama’ah.

Menurut ahli hikmah diantara para sahabat Nabi SAW bahwa “hikmah bolak-baliknya Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT” adalah bawah “memandang wajah Allah SWT adalah suatu kenikmatan tersendiri.” Yang demikian itu telah dialami seluruh manusia ketika masih berada di alam arwah yaitu ketika Allah SWT memanggil manusia untuk memberikan persaksian tentang keesaan Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf [7] ayat 172:

QS Al-A'raf ayat 172

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Maka betapa sangat nikmatnya bagi Nabi Muhammad SAW ketika Isra’ mi’raj beliau menghadap dan melihat Allah SWT dengan ruh dan jasadnya (bukan hanya ruh saja sebagaimana manusia di alam arwah). Hal ini sesuai firman Allah SWT di dalam surat Al-Isra’ [17] ayat 1:

QS Al-Isra ayat 1

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Advertisements

Pages: 1 2 3 4 5 6 7