Kasus 2: Bagaimana jika seseorang yang matinya tergencet diantara 2 (Dua) gedung sehingga susah untuk diurus seperti layaknya jenazah normal (dimandikan, dikafankan, dishalatkan dan dikuburkan)?

Dalam kasus seperti ini maka adalah tidak mungkin untuk meruntuhkan gedung tersebut. Maka pelaksanaan pengurusan jenazah dilakukan sebisanya yaitu dimandikan cukup dengan diguyur saja, dikafankan sebisanya, dishalatkan dan dikuburkan di tempat tersebut.


Kasus 3: Bagaimana jika yang meninggal adalah orang kafir sementara keluarganya (anaknya) muslim bahkan sudah berhaji? Bolehkah kita menshalatkannya?

Jawab: Boleh namun hukumnya tidak wajib kifayah atau fardhu kifayah namun hanya boleh (ja’iz, bukan sunnah apalagi wajib!). Oleh karena itu, maka orang muslim boleh menengok orang kafir yang meninggal dunia sekedar menjaga hubungan diantara manusia (hablum minan nas).


4)   Menguburkan Mayyit (دَفْنُهُ).

Jika seorang muslim meninggal maka dia harus dimakamkan di pemakaman muslim. Adapun jika pemakaman tersebut adalah pemakaman umum (misalnya milik pemerintah daerah) maka jika seorang non muslim meninggal maka dia harus dimakamkan terpisah dari pemakaman kaum muslimin. Mengapa demikian?


Ada sebuah cerita di dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zaynuddin bin Abdul Aziz bin Zaynuddin bin ‘Ali al-Ma’bari al-Malibari mengenai seseorang yang meninggal dalam keadaan rambut dan jenggotnya masih hitam, kulitnya masih kencang. Dia dimakamkan di sebuah pemakaman di mana ada orang non muslim (kafir) dimakamkan pula di sana. Diceritakan bahwa malam berikutnya saudaranya yang masih hidup bermimpi bertemu dengan saudaranya yang sudah meninggal dalam keadaan rambut dan jenggotnya sudah putih dan kulitnya pun keriput. Ketika ditanya “apa yang telah Allah perbuat kepada engkau wahai saudaraku? Dia (orang yang telah meninggal tadi) menjawab: “aku mendengar dahsyatnya siksaan yang diberikan kepada orang-orang kafir bagaikan suara petir yang dahsyat menyambar ke telingaku sehingga beginilah kondisiku sekarang ini. Rambutku dan jenggotku menjadi putih dan kulitku pun keriput. Aku mohon pindahkan makamku ke tempat lain.”


Cerita di atas merupakan ilustrasi yang menjadi alasan mengapa pemakaman orang-orang muslim harus dipisahkan dari pemakaman orang-orang kafir karena dahsyatnya siksa kubur terhadap orang-orang kafir dapat membuat orang-orang muslim tidak tenang di dalam kubur mereka.

Syariat pengurusan jenazah ini hanya berlaku bagi orang-orang muslim. Adapun untuk orang-orang kafir (termasuk kafir zimmy dan orang-orang murtad) hal ini tidak berlaku (tidak wajib dan hanya boleh (ja’iz) saja). Namun demikian Rasulullah SAW tetap memerintahkan agar mayat orang-orang kafir (termasuk kafir zimmy) dimakamkan meskipun harus dipisah pemakamannya dari pemakaman orang-orang muslim. Demikianlah Islam mengatur sampai pun masalah pemakaman seorang muslim ketika telah meninggal dunia ini karena menjaga kemuliaan martabat manusia sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Isra (17) ayat 70:

QS Al-Isra ayat 70

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Bahkan di dalam hadits Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk berdiri ketika ada jenazah yang lewat sekalipun jenazah tersebut adalah orang Yahudi / kafir, sebagaimana sabdanya:

Hadits perintah menghormati jenazah meski yahudi

Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari ‘Ubaidullah bin Muqsim dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu, dia berkata: “Suatu hari jenazah pernah lewat di hadapan kami, maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berdiri menghormatinya, dan kami pun ikut berdiri. Lalu kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah seorang Yahudi.” Maka beliau berkata: “Jika kalian melihat jenazah, maka berdirilah!” (HSR  Bukhari Vol. 2 No. 398).

Advertisements

Pages: 1 2 3 4 5