2.  Mengkafankan Mayyit (dan Permasalahannya)

Tahap selanjutnya setelah mayyit dimandikan / ditayamumkan adalah dikafankan. Ketika mayyit hendak dikafankan maka mayyit tersebut tidak boleh dilihat oleh “siapa pun” kecuali mereka yang berkepentingan saja” seperti ‘amil atau ‘amilah dan keluarga dekatnya saja. Hal ini untuk menjaga agar “aib si mayyit” “tidak terbuka“ atau “diketahui oleh orang lain” sehingga khawatir menjadi “bahan gunjingan” yang dapat menimbulkan dosa.

mengkafani jenazah
Gambar 2. Mengkafani Jenazah

Di dalam masyarakat sering orang menceritakan “aib” seseorang yang sudah meninggal padahal ini merupakan “dosa.” Jika orang yang masih hidup saja diceritakan “aibnya” dan untuk menebusnya maka harus minta maaf kepada yang bersangkutan maka bagaimana jika yang diceritakan sudah meninggal? Dalam hal ini kafarat­-nya atau tebusannya adalah “memberi makan 60 orang fakir miskin dan meniatkan pahalanya untuk si mayyit” jika tidak, sukakah anda memberikan pahala kebaikan anda kepada orang tersebut di akhirat nanti?

Dalam hal mengkafankan ini, maka:

  1. Posisikan jenazah di tengah di antara 3 lembar kain kafan (untuk laki-laki) yang sudah disiapkan;
  2. Juga disiapkan “celana dalam” yang dibuat khusus dari kain kafan tersebut pada tempat yang “tepat” sehingga mudah untuk mengenakannya pada si mayyit;
  3. Bungkus yang rapat dan rapi.

Bersambung ke “Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Jenazah (Bagian 2)”

Advertisements

Pages: 1 2 3 4 5