Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Jenazah (Bagian 1)

Kuburan Muslim Tanah Baru

1.  Memandikan Mayyit (dan Permasalahannya)

Bagaimana tata cara “mengurus” mayat yang mati tenggelam, tubuhnya hancur karena bom atau lainnya sehingga sulit mengurusnya? Untuk mayyit yang rusak karena mati dalam keadaan “tidak wajar / abnormal” maka ada tata cara tersendiri untuk mengurusnya.

Jika mayyit sudah membusuk maka tidak perlu dimandikan dan digosok-gosok karena akan menyebabkan rusaknya kulit atau tubuh si mayyit dan hal tersebut akan menyakiti mayyit. Jika demikian maka cukup disiramkan air ke tubuh mayyit tersebut.

Adapun jika si mayyit sedang berihram (untuk manasik haji) maka tidak perlu dimandikan, melainkan dapat langsung dimakamkan. Demikian juga dengan orang yang mati syahid karena memerangi orang-orang kafir maka tidak perlu dimandikan lagi dan (dapat) langsung dibungkus dan dimakamkan di tempat di mana dia “mati syahid” atau jika orang tersebut orang-orang penting (biasanya) dibawa dan dimakamkan di pemakaman yang khusus bagi para syuhada seperti halnya pemakaman syuhada di Uhud, Arab Saudi.

memandikan jenazah
Gambar 1. Memandikan jenazah

Mengapa orang-orang yang mati syahid tidak boleh dimandikan? Karena darah yang berlumuran di tubuhnya dan dipakaiannya dan luka-luka yang diterimanya karena perang di jalan Allah akan menjadi saksi di hadapan Allah pada hari kiamat nanti. Maka darah orang yang mati syahid tersebut “haram” hukumnya dicuci.

Demikian juga anak yang meninggal yang baru berusia 3 (tiga) bulan tapi di bawah 7 (tujuh) bulan tidak perlu dimandikan melainkan dapat langsung dibungkus, (dishalatkan?) dan dikuburkan.

Jika mayyit mati karena terbakar sehingga tidak dapat dimandikan maka cukup ditayamumkan saja (tidak perlu dimandikan karena dapat merusak badan si mayyit).

Bagaimana jika si mayyit adalah seorang wanita dan tidak ada (wanita = ‘amilah) yang dapat memandikannya di tempat tersebut (desa, kelurahan atau kecamatan) ? Yang ada hanyalah laki-laki yang dapat memandikannya (‘amil) maka boleh dimandikan oleh ‘amil tersebut dengan syarat:

  1. Si mayyit wanita dalam keadaan mengenakan busana lengkap sebagaimana ketika dia hidup;
  2. Keluarganya si mayyit wanita harus ikut mengawasi prosesi pemandian si mayyit.

Bagaimana jika ‘amil tersebut ketika sedang memandikan “terangsang / syahwat” terhadap si mayyit maka ‘amil tersebut harus mengundurkan diri dan mempersilahkan (jika ada dan mungkin) “anak laki-laki” yang belum baligh (yang belum memiliki syahwat kepada wanita) dari pihak keluarga untuk memandikannya dengan bimbingan ‘amil tersebut.

Dan jika si mayyit (perempuan) yang sudah selesai dimandikan dan diwudhukan kemudian ada pelayat (yang bukan mahramnya) yang menyentuh si mayyit maka tidak perlu diwudhukan lagi (artinya tidak menjadikan wudhu si mayyit batal). Adapun yang batal wudhu (jika memang memiliki wudhu) adalah orang yang masih hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s