B. Pembahasan 

Kewajiban seorang muslim terhadap jenazah / muslim lain yang telah meninggal dunia dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pasal kewajiban terhadap jenazah

Pasal: Kewajiban terhadap mayyit adalah 4 (Empat) perkara yaitu:

1. Memandikan mayyit (غُسْلُهُ);

2. Mengkafankan mayyit (تَكْفِيْنُهُ);

3. Menyolatkan mayyit (الصَّلَاةُ عَلَيْهِ); dan

4. Menguburkan mayyit (دَفْنُهُ);

Keempat perkara di atas merupakan kewajiban bagi orang-orang Islam (muslim) yang masih hidup terhadap mayyit yang dihukumkan sebagai fardlun alal kifayah (فَرضٌ عَلَي الْكِفَيَةِ) atau wajib alal kifayah (وَجِيْبٌ عَلَيْ الْكِفَيَةِ) yaitu: “apabila salah seorang diantara keluarganya melaksanakan keempat perkara tersebut di atas.” Bahkan di dalam kitab yang lain ditambahkan 1 (satu) kewajiban lagi yaitu “ikut menggotong mayyit sampai ke tempat pemakamannya (أَلْحَمْلُ اِلٰي مَوْضِعِيْهِ)”.

Kewajiban tersebut merupakan fardlu kifayah bagi orang yang tahu atas kematian seseorang tersebut atau dia menduga (dengan yakin) bahwa seseorang itu sudah mati atau dia tidak tahu lalu diberitahu mengenai kematian seseorang maka orang tersebut harus segera melakukan kewajiban untuk mengurus mayyit tersebut.  Karena hal tersebut merupakan hak antara sesama muslim dan bukti kecintaan / sayangnya terhadap saudara sesama muslim.

Siapakah muslim sejati itu? 

Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai “muslim sejati” sebagaimana disampaikan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

hadits tentang muslim sebenarnya

Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40 )

Jadi yang disebut “muslim” itu adalah “orang yang pandai menjaga lidahnya dan tangannya (dalam arti lain kekuasaan yang diamanatkan kepadanya).” Oleh karena itu, maka hendaklah kita berhati-hati menjaga tangan dan lidah kita. Contohnya adalah jika kita membicarakan “aib-aib” orang lain di belakangnya (ghibah). Jika seseorang melakukan hal tersebut (ghibah) maka dia wajib meminta ridho orang yang dibuka aibnya tersebut dengan meminta maaf secara langsung maka barulah “urusan tersebut dianggap selesai.”

Kewajiban yang berkaitan dengan mayyit tersebut adalah jika mayyit tersebut seorang muslim dan tidak berlaku jika mayyit tersebut orang kafir (non muslim). Kalau pun akan dilaksanakan maka dihukumkan sunnah saja.

Advertisements

Pages: 1 2 3 4 5