2. Syarat-syarat dan Keutamaannya

Syarat utama yang harus dipenuhi untuk mendapatkan keutamaan sebagaimana dipaparkan di dalam hadits-hadits tersebut di atas adalah:

  1. sebelum berubah posisi duduknya (yaitu duduk tawarruk). Namun jika kondisi tak mengijinkan (karena imam tak melakukan hal tersebut dan khawatir mengganggu orang lain maka boleh pindah posisi);
  2. sebelum berkata-kata dengan perkataan yang tidak berhubungan dengan ibadah / urusan-urusan dunia (ngobrol);
  3. Menghadapkan wajahnya ke arah makmum (bagi imam shalat Jum’at).

Jika syarat-syarat tersebut di atas dapat dipenuhi maka keutamaan yang akan diperoleh adalah:

  1. Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang (dosa-dosa kecil) dan akan diberikan pahala sejumlah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW);
  2. Dan diriwayatkan pula dari (hadits) Ibnu Sinni bahwa orang yang membaca surat Al-Fatihah (7x), surat Al-Ikhlash (7x), surat Al-Falaq (7x), surat An-Nas (7x), maka orang tersebut akan dihindarkan / dipelihara oleh Allah SWT dari keburukan / fitnah sejak Jum’at hari ini hingga Jum’at yang akan datang. Dan jika orang tersebut mati di antara kedua Jum’at tersebut, maka Allah akan tetapkan iman dan islamnya dari dunia hingga akhirat.”;
  3. Allah SWT akan memelihara keluarganya, agamanya, kebutuhan dunianya serta anak cucunya;

Syaikh al-Hafidz Ibnu Hajar  dan Syaikh Az-Zayadi telah menukilkan bahwa demikianlah tata cara wirid sebagaimana diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW yaitu setelah membaca istighfar, kemudian baca surat Al-Fatihah (7x), kemudian baca surat Al-Ikhlash (7x), kemudian baca surat Al-Falaq (7x), kemudian baca surat An-Nas (7x).

Al-Imam Al-Qolyubi menukilkan bahwa tata cara sebagaimana diajarkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW tersebut merupakan “suatu urusan yang khusus” sebagai wirid yang dibaca setelah salam pada shalat Jum’at. Jadi berbeda dengan wirid setelah shalat lainnya.

Adapun yang dimaksud di dalam hadits tersebut “… diampuni dosa-dosa yang lalu dan yang kemudian …”  maksudnya adalah “dosa-dosa kecil.”

Yang dimaksud dengan “dosa-dosa kecil (kepada Allah)” diantaranya:

  1. Ketika masuk waktu shalat seseorang tersebut berkata “Ah nanti dulu shalatnya, tinggal sedikit lagi selesai nih …”
  2. Membuang-buang waktu / menyia-nyiakan waktu dengan tidak mengerjakan hal-hal yang bermanfaat.

Maka janganlah menganggap remeh “dosa-dosa kecil” tersebut karena jika dibandingkan antara amal ibadah / kebaikan yang dilakukan yang hanya sedikit (hanya beberapa menit) dibandingkan dengan keburukan / kemaksiatan (dosa) yang banyak maka yang demikian itu adalah “perbuatan yang merugi” sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat Al-Qori’ah ayat 6 – 11:

QS Al-Qori’ah ayat 6 – 11

  1. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya.
  2. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
  3. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.
  4. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
  5. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu.
  6. (Yaitu) api yang sangat panas.

Maka alangkah ruginya orang seperti itu. Padahal Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:

QS. Adz-Dzariyat [51] ayat 56

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat [51] ayat 56).

Maka hendaklah setiap diri berhati-hati dan mulailah untuk menghisab diri sendiri (muhasabah) karena setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan dihisab oleh Allah SWT di Hari Kiamat nanti. Dan alangkah rugi jika ternyata timbangan amal baik kita lebih ringan dari timbangan amal buruk!

Adapun yang dimaksud dengan “dosa besar (kepada Allah)” diantaranya adalah “menunda-nunda mengerjakan shalat”, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT di dalam surat Al-Ma’un [107] ayat 4 – 5:

QS Al-Ma’un [107] ayat 4 - 5

  1. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.
  2. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.

Maka mengapakah kita tidak bersegera mengerjakan shalat kepada Allah SWT yang telah memberikan rezeki dan memberikan segala kebutuhan kita?

Imam al-Manawi menukilkan dari Abil As’ad al Qusyairi bahwa setelah membaca surat Al-Fatihah (7x), surat Al-Ikhlash (7x), surat Al-Falaq (7x), surat An-Nas (7x) maka ucapkan di dalam doa (sebanyak 4 kali oleh imam shalat Jum’at):

Ya Ghoniyyu ya Hamiid

Dan diriwayatkan bahwa barang siapa yang membiasakan untuk membaca doa ini setiap hari (selesai wirid) Jum’at maka “Allah akan memberikan kekayaan lahir dan batin dan Allah akan memberikan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Kemudian Syaikh As-Syarqowi menukil dari gurunya yaitu Syaikh al-Hafani bahwa doa sebagaimana tersebut terdapat di dalam hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW.

Dari Al-Quthub al-Wahab as-Sya’rani bahwa “barang siapa yang membiasakan membaca doa ini pada setiap hari Jum’at maka Allah SWT akan mewafatkan dia mati dalam keadaan Islam tanpa ada keraguan.” Sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS Ali Imran [3] ayat 102:

QS Ali Imran [3] ayat 102

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Adapun yang dibaca setelah “aamiin” (sebanyak 5 kali) adalah:

Salam, istighfar, surat Al-Fatihah (7x), surat Al-Ikhlash (7x), surat Al-Falaq (7x), surat An-Nas (7x), doa “…يا غني يا حميد, doa untuk ampunan muslimin dan muslimat lalu baca:

Ilahi lastu lil firdausi ahla

Maka orang tersebut akan dimatikan dalam keadaan Islam dan khusnul khotimah.

Advertisements

Pages: 1 2 3