Sidang perdana kasus penistaan agama yang digelar pada Selasa, 13 Desember 2016 bertempat di gedung bekas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat yang mendudukkan gubernur DKI Jakarta non aktif Ir. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengundang perhatian begitu banyak orang bahkan menjadi trending topic di Twitter dan media-media sosial. Dan, bagi umat Islam digelarnya sidang ini merupakan “kemenangan umat Islam”, meskipun jangan berbangga dan berpuas diri, sebagaimana disuarakan melalui Aksi Bela Islam I (14 Oktober 2016), Aksi Bela Islam II (4 November 2016) dan Aksi Bela Islam III (2 Desember 2016). Meskipun belum sepenuhnya tercapai yaitu “ditangkapnya dan dipenjarakannya Ahok!” Tapi paling tidak ini sebuah “lompatan raksasa (giant leap)” jika Ahok sampai dipenjara dan artinya Pilkada DKI bakal kehilangan Calon Nomor Urut 2 yaitu Ahok – Djarot!

Saya sebetulnya tidak terlalu “antusias” menulis tentang sidang perdana kasus penistaan agama dengan Ahok yang duduk di bangku pesakitan. Namun ketika seorang teman, Dr. H. Yudha Heryawan Asnawi, seorang Sosiolog dan Kader NU (YHA), mengirimkan tulisannya terkait “Nota Pembelaan Ahok pada Sidang Perdananya” pada Rabu, 14 Desember 2016 kepada saya, membuat saya “terpaksa membongkar kembali ingatan saya” tentang “Sidang Perdana Kasus Penistaan Agama dengan Ahok sebagai Terdakwa.”

Ahok terdakwa kasus penistaan agama
Ir. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menjadi terdakwa pada kasus penistaan agama pada sidang perdananya

Advertisements

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8