Marah merupakan perilaku buruk yang seharusnya dihindari. Seseorang yang sedang marah seringkali terlihat buruk, tidak menarik dan menyebalkan. Oleh karena itu, menahan marah adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan ketika rasa marah itu datang.

Memang, tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimanan) seseorang.

Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menelusuri lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.

Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Allah SWT mengajarkan bahwa yang terbaik adalah memberi ma’af, sebagaimana firman-NYA:

jangan-marah_3_asyura-37

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (QS As-Syuura : 37).

Advertisements

Pages: 1 2 3 4 5